Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2017

Fabel Perdanaku

Gambar
Fabel Perdana                Berderak-derak sangkutan dancing               Bagaikan putus diimpit lumpang              Bergerak-gerak kumis kucing             Melihat tikus bawa senapan Sumber: https://gurusatap.files.wordpress.com/2012/06/tikus.jpg Ah, membaca pantun jenaka ini mengingatkanku pada cerita pertama yang kutulis saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Saat itu masih duduk di kelas empat SD, wali kelas menunjukku untuk mengikuti Lomba Mengarang Tingkat SD di Kecamatan. Bagaimana perasaanku? Alhamdulillah, rasanya senang sekali bisa dipilih dan diberi amanah untuk berkesempatan menjadi peserta lomba menulis. Padahal sebelumnya belum pernah menulis cerita, kecuali menulis tugas-tugas mata pelajaran untuk merangkum materi. Bagaimana untuk mendapatkan ide cerita? Ide itu tiba-tiba muncul saat aku membaca pantun di atas yang terdapat dalam buku pelajaran Bahasa Indonesia jaman dahulu. Akhirnya aku menulis sebuah fabel antara Tikus dan Kucing, dimana

Sahabat Pena

Gambar
Sahabat Pena Sahabat pena? Sepertinya pernah mendengar kata ini, tapi apa ya? Well, sahabat pena kalau menurut saya adalah seorang sahabat di luar sana entah di mana saja yang kita ajak berteman dan berkomunikasi melalui surat. Keren ya? Kita bisa punya sahabat jauh, bisa saling berkirim surat dan bisa saling menceritakan apa pun. Dulu, saat saya masih SD ingin sekali memiliki sahabat pena. Selain punya teman baru juga jadi bisa berkirim surat. Bayangkan, seorang anak desa sering didatangi Pak Pos, keren kan? Tapi sayang seribu sayang, itu hanya angan-angan belaka sampai sekarang. Lho kok, gitu sih? Mau bagaimana lagi? Baca buku, baca majalah adanya di perpustakaan sekolah, bergantian dengan murid lain. Mau nekat mengirim surat, tidak ada uang untuk membeli perangko dan kantor pos jaraknya lumayan jauh. Akhirnya pasrah dan menyerah. Pelampiasan dengan menulis suka-suka dibuku sembarang, anggap saja seperti diary. Nah, kalau sekarang bagaimana? Sudah bisa beli perangko, suda

Surat Untuk Ibu

Gambar
Sinar Illahi yang Abadi Karya: Elinnurs Mila Teruntuk Ibundaku tercinta, Nan jelita lagi perkasa Duhai ibuku, Wanita mulia nan sejati Pelindung jiwa, penentram hati Ibu…. Di kala pagi aku terbangun Hangat mentari menyambutku Namun pelukan ibu di pagi hari, melebihi hangatnya sang mentari Efeknya begitu mendamaikan, menentramkan dan menyegarkan bagai aroma therapy Ibu…. Saat aku terpaku di kala sore Siluet senja memancarkan sinar keemasan Membungkam suara dan setiap jengkal gerakku Namun, tahukah engkau duhai Ibuku…. Pendar senyummu melebihi emas permata Mampu mengangkatku untuk terbang ke angkasa Menggapai segenap mimpi dan juga asa Ibu…. Saat rembulan menyinari malam Terangnya menyapu cakrawala Begitulah sinar dari kedua bola matamu, Ibu… Bercahaya, menembus jauh dalam lubuk hatiku Menanam cinta yang terpatri sejati Bercahaya, yang lebih dari sekedar cahaya Ibu…. Saat angin malam menusuk dalam tulang Kau s

Puisi Untukku

Gambar
EMBUN Menyapa pagi Embun di pucuk dedaun Rabak satu persatu Lembut Indah dikilau mentari Nun.... Nyaman.... Untuk sekedar menatapnya Riasan bianglala.... Semburat di tubuhnya Membuat kian pana Ibarat pelangi di lengkung mutiara Lama menyimpan warna Aduhai....